Archive for July, 2007

Be Glad and Rejoice !!

Tuesday, July 17th, 2007
Today’s Scripture
“May the righteous be glad and rejoice before God; may they be happy and joyful” Psalm 68:3 (NIV).
Today’s Word

You should live by a simple life motto: “I’m a Christian, so I choose to be happy!” That’s right, as a believer you are blessed by Christ, who watches over you every single moment. Happiness and joy are a choice - one that should be easy for a Christian to make. If choosing happiness is hard for you, try this starting tomorrow morning with an attitude of gratitude. Give thanks to God as soon as you get out of bed, before you even leave your bedroom, because God’s praise should always be on your lips. Everything else in life is just stuff, but your happiness is based on the fact that God has given you life and spiritual blessings. Be glad before the Lord and choose to be happy each day, and it will become a wonderful habit! 

A Prayer for Today

God, I know You want me to live a life of constant joy and happiness. Thank You for giving me life, love, and blessings to enjoy, so that I may see just how awesome You are. In Jesus’ Name. Amen.

God Knows

Monday, July 16th, 2007

Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan !
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya
sia-sia…
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih…
Tuhan sudah menghitung airmatamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa
berlalu begitu saja…
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk
menelepon.
Tuhan selalu berada disampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak
berbuat apa lagi… Tuhan punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa
tertekan…
Tuhan dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan…
Tuhan sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap
syukur..
Tuhan telah memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban.. .
Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi…
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap… TUHAN TAHU

Sudahlah, Maafkan Saja !!!

Wednesday, July 11th, 2007

Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ”Hati-hati, banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!”

Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita.

Anehnya, kita sering — bahkan dengan sengaja — memasukkan ”makanan-makanan beracun” ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain!

Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, rekan kerja, dan sahabat kita tak melakukan apa yang kita inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang yang membobol ATM kita, politisi yang hanya memperjuangkan perutnya sendiri, maupun dikhianati sahabat kita. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri.

Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.

Baru-baru ini saya sendiri mengalami sendiri apa yang disebut di atas "Tidak Memaafkan". Tiap hari saya berpikir apa layak orang itu dimaafkan ? Ternyata kecongkakan dan ketinggian gati seseorang bisa membuat semua berjalan lebih tidak karuan. Akibatnya, hidup hanya dipenuhi kebencian dan ketidakdamaian. Hidup yang semestinya bisa dibuat cerah, tetapi secara tidak sengaja justru dibuat mendung selalu. Ujung-ujungnya hidup tidak bahagia.

Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.

Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya. Inilah konsekuensi logis dari hukum alam.

Mempraktikkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Tuhan yang sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerarld G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness, The Greatest Healer of All.

”Rela memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan.”

Jadi kawan, seberat dan sefatal apapun kesalahan orang itu, cobalah untuk memaafkan. Memang memaafkan tidak semudah kita bernapas lewat hidung, tidak semudah kita membalikkan tangan. Mulailah dengan memaafkan dirimu sendiri. Kalau kamu bisa berkaca dan menemukan kesalahanmu di depan cermin itu, maafkan dirimu dulu baru memaafkan orang lain.