Betrayed
May 22nd, 2007 by levyndoWell…
Orang bilang cukup percaya ke orang lain itu 99% aja. Sisain yang 1% untuk tidak percaya. Sebab dari 1% itu (believe or not) bisa jadi 100% ga percaya. Intinya dalam berhubungan dengan seseorang, kita dituntut untuk tetap waspada. Waspada di sini bukan berarti kita harus berpikiran negatif, tapi tepatnya sebagai tindakan preventif siapa tau temen kita itu bikin ulah ke kita. Tidak menutup kemungkinan kalo seorang sahabat berbalik menjadi musuh kita karena berkhianat. Malah hal itu sering terjadi.
Ada cerita. Tiga orang teman, 2 cowok (sebut aja A dan B) dan satu cewek (sebut aja bunga). Si A menaruh hati ke bunga sejak lama tapi hanya karena hal yang sepele, A membuang perasaan itu dan yang ada malah caci maki ke bunga. Tapi ternyata bunga tetap menunggu A. Di saat A masih mencaci-maki bunga, ternyata B juga menaruh hati ke bunga. Nah, tiba2 A mendapatkan dirinya ternyata kembali suka ke bunga. Di saat A masih mencaci-maki bunga, bunga terus curhat ke B. Bahkan di saat A mulai menunjukkan gejala akan kembali kepada bunga, bunga tetap curhat ke B. Bunga menunjukkan keraguan yang sangat ke A. Toh akhirnya bunga menolak cinta A.
Tetapi bunga masih memberi kesempatan ke dua buat A. Di saat yang sama, B menyatakan perasaannya ke bunga. Bunga pun bingung. B tidak ingin A tau perasaannya karena B tidak ingin merusak hubungan persahabatan dengan A. Prinsip B : lebih baik kehilangan pacar daripada seorang sahabat. Dan itu diterapkan benar2 oleh B. Tapi karena kebodohan B, akhirnya A tau juga. Tapi B memaksa supaya A tidak bingung dan tetap maju untuk bunga. Di saat A dan bunga resmi menjalin kasih, B memutuskan untuk pergi jauh2 dari mereka berdua karena B sudah lelah mengalami hal ini terus2an. Menurut B, dia tidak akan pernah bisa untuk menjadi saksi kisah mereka berdua. Lebih baik jauh, menurut B. Tapi ternyata A mengambil keputusan yang berani (tanpa pikir panjang tepatnya). A memutuskan untuk tidak meneruskan hubungannya dengan bunga dan lebih memilih bersahabat bertiga daripada harus kehilangan B, sahabatnya. B menerima keputusan itu dan mulailah mereka bertiga hidup sebagai sahabat.
Tapi ternyata bunga dan A tidak bisa konsekuen terhadap apa yang sudah diputuskan. Mereka tetap menjalin hubungan tanpa sepengetahuan B. Menurut B bukannya mereka tidak bisa, tapi memang mereka tidak mau konsekuen karena mereka tidak rela. Ternyata A lebih memilih bunga daripada B, yang katanya sahabatnya. Satu lagi ketidakkonsekuenan A terhadap apa yang sudah dikeluarkan dari mulutnya. Menurut B ternyata A lebih memilih bunga daripada sahabatnya. A dan B adalah orang yang sama2 keras kepala. Maka dari itu B tetap menuntut A konsekuen pada komitmen yang sudah dibuatnya. Tapi hal itu tidak mungkin karena A toh tidak perduli pada B. Tidak peduli akan komitmen yang sudah dibuatnya, karena A tidak akan pernah berhenti berusaha mendapatkan apa yang dia mau.
A tidak sadar bahwa sebenarnya dia sudah menanam kebencian dan rasa tidak percaya di benak B.
Siapa yang salah antara A dan B ?? Semua salah. Salah A adalah membuat keputusan sok dewasa yang konyol itu. Kesalahan B adalah lalai membiarkan A tau perasaannya ke bunga.
Siapa yang benar antara mereka bertiga ? Semuanya benar karena cinta itu tidak pernah salah. Cinta itu anugerah dari Tuhan. Tidak pernah salah.
Nah, sekarang B sudah merelakan mereka berdua. Tapi ternyata B masih menyimpan sakit yang luar biasa sakitnya dalam hatinya karena merasa dikhianati oleh A. B sangat kecewa. Tapi kecewa itu tidak ada artinya dibanding sakit hati karena yang melakukan itu adalah A, sahabatnya sendiri. B selalu berpegang pada prinsip 99% di atas. Tapi untuk A, B percaya 100%. Dan itu yang membuat B sakit hati sekali atas apa yang sudah dilakukan. Kata2 rela yang sudah keluar dari mulut B untuk hubungan mereka sama sekali tidak mendapatkan ucapan terima kasih dari mereka berdua. Wajar saja, soalnya di mata mereka, B itu cuma orang yang menghambat hubungan mereka dan sudah seharusnya B rela dan tidak perlu ucapan terima kasih. Sekarang ini B masih hidup berdampingan dengan mereka yang tidak tau malu tetap menjalin hubungan di atas sakit hati oran lain. B juga memasang topeng yang selalu tersenyum di depan mereka berdua. Padahal di balik topeng itu masih tersimpan marah dan perasaan benci itu. B hanya tidak ingin mendapatkan predikat "penghambat hubungan" keluar dari mulut mereka berdua.
Menurut aku pribadi, B tidak benci ke bunga karena ternyata B begitu mencintai bunga. Tapi justru kebencian itu untuk A. Alasan utamanya karena ternyata A lebih memilih bunga daripada mempertahankan hubungan persahabatannya dengan B.
Tapi ini semua sudah terjadi. Sudah selayaknya B bisa menerima hal itu. Menerima kalo ternyata seorang sahabatpun bisa berubah menjadi seorang pengkhianat yang sudah melukai hatinya.
Nah kalo gini, siapa yang bisa dipercaya ? Aku rasa cuma Tuhan yang bisa dipercaya. Manusia itu layaknya seekor kucing. Susah payah dipelihara, tapi tetap mencuri makanan sang majikan. A juga begitu, susah payah B menjaga hubungan persahabatan itu tapi A justru menusuk dari belakang. A mestinya malu ke B karena dia tidak bisa konsekuen. A juga mestinya malu untuk meneruskan hubungan dengan bunga. Tapi yang ada ternyata A cuek bebek tanpa malu tetap menjalankan hubungan dengan bunga. Kasian bunga, dapet cowok yang ga bisa konsekuen. Untuk sahabatnya aja A ga bisa konsekuen, nah gimana nanti ke pacarnya ? Ke istrinya ??

